Pasien Kanker Sulit Telan Makanan Saat Terapi ? Konsumsi Nutrisi Cair Bisa Jadi Alternatif

Pasien Kanker Sulit Telan Makanan Saat Terapi ? Konsumsi Nutrisi Cair Bisa Jadi Alternatif

February 25, 2021 0 By admin

Nutrisi memiliki peranan penting bagi pasien kanker yang sedang menjalani terapi atau perawatan. Sebab, pemenuhan nutrisi, artinya mereka bisa mempertahankan berat badan, mencegah komplikasi. Termasuk meningkatkan daya tahan tubuh. Peningkatan daya tahan tubuh ini tentunya akan mempengaruhi tindakan selanjutnya dalam upaya penanganan penyakit tersebut.

Namun, selama menjalani pengobatan ini, pasien mungkin saja akan sulit menelan makanan bertekstur padat karena mengalami sariawan dan mulut yang pahit. Dokter Gizi dr Dedyanto Henky Saputra, M.Gizi mengatakan bahwa pasien kanker ini bisa mencoba konsumsi makanan dalam bentuk cair untuk tetap menjaga asupan nutrisinya selama masa perawatan. "Kesulitan mengkonsumsi nutrisi padat bisa diganti dengan nutrisi cair, sebagai pelengkap maupun pengganti (pada saat) sebelum, selama maupun sesudah menjalani terapi," ujar dr Dedyanto, dalam webinar 'Media Gathering Nutrican 2021', yang digelar PT Kalbe Farma Tbk, Kamis (25/2/2021).

Menurutnya, nutrisi yang tepat akan mengoptimalkan terapi kanker pada pasien. Hal tersebut pun dibenarkan artis sekaligus survivor kanker, Shahnaz Haq yang mengakui bahwa nafsu makannya juga sempat turun drastis saat menjalani masa perawatan. Hal itu pun akhirnya berdampak pada berat badan dan daya tahan tubuhnya.

Satu diantara sejumlah cara untuk menjaga agar daya tahan tubuh tetap stabil dan berat badan tidak turun yakni melalui konsumsi nutrisi yang tepat. "Saya adalah seorang survivor dan saya ingin menjadi inspirasi bagi para pejuang kanker lain di Indonesia," tegas Shahnaz. Perlu diketahui, penurunan nafsu makan merupakan efek samping dari pengobatan yang sedang dijalani pasien kanker pada umumnya.

Pada tahap ini, mereka biasanya akan merasa kesulitan saat makan. Secara umum, penanganan pada pasien kanker ini terbagi menjadi dua, yakni pengobatan lokal dan sistemik. Untuk pengobatan lokal ini meliputi operasi dan radiasi, sementara itu terkait pengobatan sistemik meliputi kemoterapi, terapi target dan imunoterapi.

Kanker menempati posisi ketiga terkait urutan penyakit yang menyebabkan kematian pada penderitanya di Indonesia, setelah jantung dan stroke. Sedangkan di dunia, penyakit ini menempati posisi kedua yang menyebabkan kematian. Lalu apakah penyakit kanker mudah dideteksi sejak dini ?

Dokter Gizi dr Dedyanto Henky Saputra, M.Gizi mengatakan bahwa biasanya pasien kanker tidak menyadari kemunculan gejala awal. Hal itu karena pada awal perkembangan sel kanker, justru tidak menimbulkan gejala. "Pada saat awal perkembangan, kanker tidak menimbulkan gejala, sehingga banyak pasien kanker yang tidak menyadari," ujar dr Dedyanto.

Namun jika gejala ini bisa disadari sejak awal, kemungkinan untuk mengendalikan perkembangan penyakit ini pun cukup besar. "Bila dikenali sejak awal, kanker besar kemungkinan bisa dikendalikan," jelas dr Dedyanto. Perlu diketahui, pada tahap awal perkembangannya, biasanya kanker memang tidak menimbulkan gejala.

Bahkan penderita kanker baru menyadari penyakit ini setelah mencapai stadium lanjut. Oleh karena ini, hal ini banyak membuat pasien kanker terlambat mendapatkan tindakan sejak dini hingga akhirnya berujung pada kematian. Jumlah penderita kanker di Indonesia pun terus mengalami peningkatsn dati tahun ke tahun.

Pada 2013, jumlah penderita kanker di Indonesia disebut mencapai angka 1,4 per 1.000 penduduk. Angka itu kemudian naik menjadi 1,79 per 1.000 penduduk pada 2018. Ini tentunya harus menjadi perhatian khusus, terutama saat masa pandemi virus corona (Covid 19) seperti saat ini.

Karena penderita kanker rentan terpapar virus tersebut. Artikel ini merupakan bagian dari KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.